Friday, November 16, 2012

Merapi-after the big eruption

Setelah letusan yang dasyat tahun 2010, baru bulan Oktober 2012 ini saya menginjakkan kaki lagi ke gunung yang sangat aktif ini. Yah, Merapi, kalau membicarakan tentang Gunung yang satu ini, akan sangat panjang, karena dalam 10 tahun ini saja paling tidak sudah terjadi 3 kali letusan yang telah mengubah bentuk dari puncaknya.
Letusan Merapi tahun 2010 dari fly over Janti
Pertama kali naik Merapi adalah ketika saya masih kuliah semester awal sekali sekitar tahun 2004, saat itu, puncak Garuda masih berdiri gagah di tanah tertinggi di gunung Merapi ini. Setelah itu sudah beberapa kali saya naik gunung ini.
Pendakian ke Gunung Merapi tidaklah terlalu susah, dan jalur pendakiannya pun sangat cepat jika melalui jalur Selo Pass, hanya membutuhkan waktu 4-6 jam untuk mencapai pasar bubrah. Disepanjang perjalanan tidak terdapat sumber mata air, dan untuk medannya sendiri langsung naik dengan terjal.
Untuk tulisan kali ini, saya tidak akan banyak membahas tentang catatan pendakian gunung Merapi, tetapi hanya akan sedikit membandingkan perbedaan-perbedaan yang terjadi terutama sebelum dan sesudah letusan tahun 2010. Berikut adalah foto-fotonya :
 Gn. Sumbing (kiri) dan Sindoro (kanan) dari Gunung Merapi
Perjalanan menuju puncak Merapi

Track menuju ke puncak lebih terjal dan berpasir


Medan berpasir
Track menuju puncak merapi sedikit berbeda, yang dulunya banyak di dominasi oleh bebatuan, sekarang tracknya lebih berpasir mirip dengan Gunung Semeru, sehingga ketika turun kita dapat melakukan Ski di pasir... (Hanya pada sisi bagian timur)
Track ke bibir kawah Merapi
Bibir kawah Merapi

Puncak Merapi-bibir kawah sebelah utara
Kawah mati

Puncak Merapi saat ini
Bibir kawah mati sekarang
Puncak Merapi
The way to the center of the Earth
Bentuk Puncak Merapi dari Pasar Bubrah

Pasar bubrah saat ini

Pasar Bubrah

Foto landscape di puncak

360 in landscape

Pemandangan di puncak Merapi in 360

Merbabu dari Merapi
Pemandangan di Puncak
Its time to go home

Pintu Masuk ke Gunung Merapi

Posted by Muslih Anwar
https://www.facebook.com/muslih.anwar
muslih.anwar@gmail.com

Monday, July 9, 2012

Keindahan Gunung Rinjani – 3726 m



(27 Juni – 30 Juni 2012)

Memang tidak bias dipungkiri bahwa gunung ini adalah gunung terindah yang pernah saya daki. Keindahan padang sabana, puncak Anjani, Segara Anakan, gunung Baru, air terjun hingga air hangat yang membuat setiap pendaki gunung di Indonesia berkeinginan menjamahnya, tidak terkecuali dengan saya. Sebenarnya saya sudah merencanakan untuk melakukan pendakian ke Rinjani pada bulan Desember 2011, akan tetapi karena cuaca yang buruk tiba-tiba gunung Rinjani ditutup lebih awal dari biasanya, sehingga baru kesampaian pada bulan juni ini.
Perjalanan menuju pulau Lombok pun kami lalui tidak mudah, banyak saja hal-hal yang menghalangi kami untuk berangkat. Mulai dari tiket kereta yang habis, tiket bus Safari Dharma Raya yang ludes, serta harus mengundurkan jadwal sehari gara-gara bus Akas tujuan Banyuwangi yang baru di carter rombongan untuk liburan.
Setelah mempelajari rute perjalanan, akhirnya Team Propane berangkat ke Lombok dengan jalan menggunakan bus. Kami berangkat dari jogja sore hari, tanggal 25 Juni 2012 dengan menggunakan bus Akas tujuan Banyuwangi. Bus mencapai kota Banyuwangi pada pagi harinya sekitar jam 8.00 WIB, selanjutnya kami melanjutkan perjalanan dari terminal banyuwangi kearah pelabuhan Ketapang dengan menggunakan angkot. Kami pun baru bias menyeberang selat Bali pukul 9.00 pagi, dan tiba di Gilimanuk 45 menit kemudian. Perjalanan kami lanjutkan dengan angkot menuju terminal Ubung, karena angkutan langsung ke Pelabuhan Padang Bai baru ada sekitar pukul 14.00 WITA siang atau pada pagi hari. Sesampainya di terminal Ubung, waktu sudah menunjukkan pukul 13.45 WITA, kami pun ditawari untuk langsung masuk angkutan yang ada diluar terminal dengan sedikit memaksa dan dengan meminta bayaran 45 ribu per orang, sangat mahal menurut kami. Setelah bertanya-tanya dengan petugas setempat dan berdiskusi, akhirnya kami mencari bus langsung ke Mataram walaupun dengan bayaran yang sedikit lebih mahal. Dari terminal Ubung ke padang Bai memerlukan waktu kurang lebih 45 menit, setelah anti menunggu bongkar muat barang, akhirnya kami bias menyeberang ke Lombok. Penyeberangan ke Lombok memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar 4-5 jam, waktu selama itu kami habiskan untuk jalan-jalan di sekitar kapal dan menikmati sunset. Tepat Pukul 19.45 WITA, kapal merapat di pelabuhan Lembar, dan perjalanan kami lanjutkan ke Mataran, tepatnya ke terminal Mandalika. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.45, dan angkutan pun sudah mulai sepi. Di terminal ini, kami sudah di jemput oleh teman kami untuk menuju rumahnya (daerah Aikmel) sejalan kearah Sembalun yang merupakan basecamp pendakian ke Gunung Rinjani. Dengan mobil pribadi, Mataram-Aikmel hanya memerlukan waktu 1 jam saja. Sesampainya di Aikmel, kami pun beristirahat, mempersiapkan fisik untuk pendakian keesokan harinya.
Tips : untuk yang kemalaman ketika mencapai pulau Lombok, di daerah Aikmel ada basecamp pendaki sebagai tempat transit sementara sebelum melanjutkan perjalanan ke Sembalun.


Hari ke-1 Rabu, tanggal 27 Juni 2012 kami pun menuju Sembalun dari pasar Aikmel menggunakan mobil pick up angkutan sayur. Memang harus berhimpit-himpitan, tapi tetap saja nyaman dengan senyuman keramahan orang-orang suku Sasak. Sesampainya Sembalun, jam sudah menunjukkan pukul 10.30 siang, kami berhenti sebentar di POS Perijinan masuk TNGR. Perijinan disini tidak terlalu ribet, hanya menuliskan nama dan alamat serta mengisi SIMAKSI serta membayar biaya retribusi sebesar Rp 10.000, tanpa harus menunjukkan KTP ataupun surat keterangan sehat. Setelah menyelesaikan registrasi, kami pun diantarkan oleh supir pick up ke tempat pendakian yang katanya dari tempat tersebut dapat menghemat waktu kurang lebih 1 jam. Setelah bersiap-siap dan repacking, tepat pukul 11.00 kami pun mulai berjalan menyusuri ladang penduduk, melewati sungai dan menembus sabana di kaki gunung Rinjani. Perjalanan siang itu terasa sangat berat, panas yang sangat terik dengan sedikit pohon untuk berteduh membuat kami lebih cepat menghabiskan persediaan air. Sangat berbeda dengan gunung-gunung di daerah Jawa yang memiliki banyak pepohonan, jalur Sembalun didominasi dengan rerumputan dan padang sabana sampai POS Plawangan (POS IV). Tanpa menggunakan porter, kami berjalan agak sedikit santai, dan lebih menikmati pemandangan sekitar yang sungguh sangat menawan. Pukul 13.30 kami telah mencapai POS I (Pemantuan), di pos ini hanya terdapat pos yang sudah rusak bagian atapnya dan ada beberapa tempat yang sedikit luas untuk mendirikan tenda. Air di pos ini tergantung aliran parit-parit kecil di sekitar pos, yang pada musim kemarau pada umumnya kering.  Setelah beristirahat sejenak di POS I ini, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju POS II. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan banyak sekali bule luar negeri, mulai dari Prancis, Kanada, Swiss, hingga Belanda. Setelah berjalan beberapa saat melewati padang sabana, kami pun telah mencapai POS II (Tengengean) pada pukul 14.15. Di POS II ini ada sumber air, tetapi kotor karena kurang dijaga dengan baik. Apabila ingin mendapatkan air yang lebih bersih, coba susuri aliran sungai ke daerah hulu, disana ada beberapa tempat genangan air yang lebih layak untuk diminum. Setelah mengisi botol untuk persediaan air, kami pun melanjutkan perjalanan ke POS III. Kami mencapai POS III bayangan pukul 15.30, kami mengira pos ini sudah pos III, alhasil kami pun sudah terlanjur memasak di pos ini. Setelah selesai masak dan makan, kami pun melanjutkan perjalanan dan sampai POS III pukul 16.45. POS III ini merupakan daerah lembah dekat dengan sungai, sehingga sangat terlindung dari angin. Air di POS ini tidak terlalu banyak, bisa didapatkan dengan cara mengeruk pasir dialiran sungai. Berhubung sudah malam, kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam di POS III ini.

Sungai - batas antara ladang penduduk dengan sabana 

Track pendakian menuju POS I Sembalun

Jembatan - di POS II Sembalun

Track pendakian menuju POS III Sembalun


Hari ke-2, Kamis, 28 Juni 2012, kami berangkat dari POS III pukul 08.30 dengan target Plawangan Sembalun. Untuk mencapai POS IV (Plawangan) ini tidaklah mudah, karena kita harus melewati Tanjakan Penyesalan terlebih dahulu. Tanjakan Penyesalan adalah suatu tanjakan yang terus menerus melewati 7 bukit, medannya mirip dengan  gunung Sindoro. Setelah melewati tanjakan ini, sampailah kami di punggung bukit yang dapat langsung memandang Segara Anakan. Perjalanan kami lanjutkan ke arah kiri sambil menyusuri punggung bukit melewati pertigaan ke arah Segara Anakan. Jalur ke Segara Anakan adalah yang ke kanan dan turun, untuk ke Plawangan Sembalun (POS IV) kami mengambil jalur lurus melewati punggung bukit. Dari Plawangan ini kita dapat memandang Segara Anakan dari atas, menikmati sunset dengan gunung Agung (Bali) di sebelah barat, serta puncak Rinjani nan anggun di sebelah selatan. Plawangan merupakan punggung bukit, sehingga sangat rentan oleh angin, dan hati-hati karena daerah ini banyak monyet kecil yang berkeliaran. Untuk air di pos ini sangat baik dan bersih (dari pancuran), dapat diambil dengan sedikit turun ke arah timur. Oh iya, di POS IV ini, ada sinyal HP juga lho (indosat, telkomsel, dan XL). Setelah memasak, dan mempersiapkan perbekalan untuk summit attack, kami pun istirahat lebih awal.

Salah satu sudut di Tanjakan Penyesalan

Tanjakan terakhir menuju Plawangan Sembalun

Segara Anakan terlihat dari Plawangan Sembalun

Permadani awan di Plawangan Sembalun

Sunset di Plawangan Sembalun

Aktivitas monyet di sekitar Plawangan Sembalun


Hari ke-3Jumát, 29 Juni 2012, dengan membawa logistik secukupnya, pukul 02.30 kami berangkat dari tenda kami untuk melakukan summit attack. Perjalanan pendakian dimulai dengan mendaki bukit yang cukup terjal untuk mencapai punggung bukit dari gunung Rinjani. Suhu udara yang cukup dingin membuat tangan sedikit mati rasa, hal tersebut tidak menciutkan nyali kami untuk mencapai puncak Rinjani. Perlahan tapi pasti kami tapaki pasir gunung Rinjani. Perlu berhati-hati ketika sudah mencapai punggung bukit gunung Rinjani, karena angin yang sangat kencang, dan medan yang sangat berbahaya dengan sebelah kanan kiri adalah jurang yang sangat terjal. Walaupun agak sedikit tertatih, akhirnya kami dapat mencapai puncak Rinjani pukul 06.15, tepat setelah sunrise. Subhanallah, sangat indah pemandangan diatas puncak Rinjani -3736 MDPL ini. Sebelah timur, terlihat matahari bersinar dan gunung Tambora nan jauh disana, sebelah barat terhampar danau Segara Anakan, Gunung Baru, serta Gunung Agung , sebelah utara terhampar padang sabana dan lautan yang sangat luas, dan sebelah selatan terdapat kawah mati dari gunung Rinjani serta permadani awannya, benar-benar sangat indah ciptaanMu ini ya Allah. Setelah menikmati keindahan puncak Rinjani yang sangat cerah pagi itu, kami pun memutuskan untuk turun (pukul 07.30) dan sampai di Plawangan Sembalun pukul 08.30. Setelah memasak dan mengambil air untuk persediaan, kami pun mulai packing dan bersiap-siap untuk turun ke danau segara Anakan. Sewaktu memeriksa perlengkapan kami pun agak sedikit terkejut, karena ternyata ada yang telah memasuki tenda kami dan mengambil beberapa barang kami. Kami kehilangan 2 HP nokia, 2 sendal gunung eiger, dan 1 tas carrier eiger hikeholic. Kami sangat menyayangkan sekali atas kejadian ini, dibalik keindahannya, gunung ini tercoreng dengan perilaku manusia yang tidak terpuji. Semoga dengan peringatan ini, dikemudian hari nanti, kejadian ini tidak akan terulang lagi. Kami menghimbau kepada teman-teman pendaki, terutama yang tidak menggunakan porter, untuk mengamankan barang berharganya sebelum melakukan summit attack.
Setelah packing yang sedikit dipaksakan, (karena dari 3 tas menjadi 2 tas) kami pun berangkat ke danau Segara Anakan. Kami berangkat dari Plawangan Sembalun pukul 13.00 dan sampai di Segara Anakan pukul 17.00 sore. Jalan menuju Segara Anakan ini merupakan turunan yang cukup terjal dan panjang. Sesampainya di Segara Anakan, kami langsung mendirikan tenda dan memasak. Di Segara Anakan ini kita dapat memancing, menikmati air terjun, serta mandi air hangat yang keluar dari rekahan batu. Untuk air minum, tidak disarankan mengambil dari danau, karena mengandung material vulkanik yang kurang baik untuk diminum. Air dapat diambil dengan menyusuri jalan setapak turun kearah kiri dari air hangat. Oh iya, di daerah ini juga ada sebuah gua yang dinamakan gua Susu dengan jarak kurang lebih 1 km dari Segara Anakan.  Setelah melepaskan penat, akhirnya kami memutuskan untuk bersistirahat dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. 
WARNING : Jangan meninggalkan barang berharga sewaktu ke Puncak!


Siluet di sekitar puncak Rinjani
Bayangan Gunung Rinjani waktu sunrise
Berpose di Puncak Rinjani - 3726 mdpl

Team Propane di Puncak Rinjani

Pemandangan Segara Anakan dari Puncak

Pemandangan Segara Anakan dan Gunung Baru dari Puncak 


Hari ke-4, Sabtu, 30 Juni 2012. Setelah mandi di air hangat, makan pagi, dan mengambil persediaan air, kami pun berangkat dari Segara Anakan pukul 11.00 untuk menuju Senaru. Perjalanan kami lalui dengan menyusuri danau kearah barat. Medan ke Plawangan Senaru memang tidak terlalu jauh, akan tetapi sangat terjal dengan melewati beberapa tebing. Kami mencapai Plawangan Senaru pukul 15.30. Setelah menikmati pemandangan yang sangat indah dari POS ini, makan untuk menambah tenaga, kami pun langsung tancap gas untuk turun gunung. Start dari Plawangan Senaru pukul 16.30, kami turun melewati pos bayangan IV dan mencapai POS III (Mondokan Lokak)  pukul 17.30. Setelah beristirahat sejenak, kami pun langsung turun ke POS II (Montong Satas) dengan melewati hutan tropis.  Sesampainya di POS II, waktu sudah menunjukkan pukul 18.50, perjalanan kami lanjutkan dengan membelah hutan belantara melewati POS II bayangan dan mencapai POS I pukul 20.30. Perjalanan kami lanjutkan kembali dan berhasil mencapai Gerbang Hutan pukul 21.00, kami selanjutnya memutuskan untuk beristirahat di Gerbang Hutan ini, dan memilih melanjutkan perjalanan ke RTC (Rinjani Track Centre) dan pulang keesokan harinya.
Berpose di tempat pemancingan
Salah satu view di Segara Anakan
Team berpose di Segara Anakan

Gunung Rinjani dan Segara Anakan terlihat dari Plawangan Senaru

View di Plawangan Senaru
Berpose di Plawangan Senaru

POS III Senaru


Hari ke-5, Minggu, 1 Juli 2012, kami berjalan pulang. Dari Gerbang Hutang menuju TRC membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Setelah melapor, kami langsung turun ke air terjun Sendang Gile, setelah puas dan melepas lelah, kami pun mencari ojek untuk ke daerah Bayan. Angkutan dari Bayan ke daerah Mataram ini hanya ada sampai jam 14.00 siang. Engkel (angkot) pun berjalan menyusuri pantai utara pulau Lombok, melewati daerah Bangsal (pelabuhan untuk ke 3 Gili) dan hutan Pusuk dan berakhir  di Mataram....
Dari Mataram kita bisa menuju ke berbagai tempat wisata lain di Pulau Lombok, seperti Pantai Senggigi (kurang lebih 30-45 menit), pantai Sekotong ataupun pantai Kuta di sebelah selatan Lombok.
Sedikit tips, jika ingin bepergian disekitar kota Mataram, misal akan ke pantai Senggigi, ataupun ke Pelabuhan Lembar, lebih murah menggunakan Taxi daripada angkutan umum (jika penumpang 3 atau kelipatannya).


Tips lain :
- Saya sarankan untuk jalan-jalan dulu di beberapa lokasi wisata di Lombok sebelum melakukan pendakian Gunung Rinjani.
- Hati-hati dengan calo di Pelabuhan Lembar yang menjual tiket yang tidak sesuai.

Peta Pendakian Gunung Rinjani yang telah disesuaikan dengan waktu tempuh kami

Estimasi Biaya :

Itinerary I
Stasiun Lempuyangan-Banyuwangi (Kereta Api Sri Tanjung): Rp 35.000 dari jogja 7.30
Ketapang-Gilimanuk: Rp 10.000
Gilimanuk- Terminal Ubung : Rp 20.000
Terminal Ubung – Padang Bai : Rp 25.000
Padang Bai-Lembar: Rp 36.000
Lembar-Terminal Cakra (angkot): Rp 25.000
Terminal Cakra (Mataram)-Aikmel (Elf): Rp 15.000
Aikmel – Sembalun : Rp 20.000
Tiket masuk taman nasional: Rp 10.000
Ojek Senaru – Bayan : Rp 20.000
Engkel Bayan – Terminal Mandalika : Rp 30.000 (maksimal pukul 14.00)
Terminal Mandalika – Pelabuhan Lembar : Rp 25.000
TOTAL: Rp. 397.000 (PP)

Itinerary II
Terminal Giwangan – Banyuwangi (Bus AKAS) : Rp 87.000 dari jam 12.00 – 19.00
Angkutan dari terminal Banyuwangi – Ketapang : Rp 12.000
Ketapang-Gilimanuk: Rp 10.000
Gilimanuk- Terminal Ubung : Rp 20.000
Terminal Ubung – Padang Bai : Rp 25.000
Padang Bai-Lembar: Rp 36.000
Lembar-Terminal Cakra (angkot): Rp 25.000
Terminal Cakra (Mataram)-Aikmel (Elf): Rp 15.000
Aikmel – Sembalun : Rp 20.000
Tiket masuk taman nasional: Rp 10.000
Ojek Senaru – Bayan : Rp 20.000
Engkel Bayan – Terminal Mandalika : Rp 30.000 (maksimal pukul 14.00)
Terminal Mandalika – Pelabuhan Lembar : Rp 25.000
TOTAL: Rp. 525.000 (PP)

Itinerary III
Berangkat Bus Safari Dharma Raya : Rp. 375.000 (sampai terminal Mandalika Mataram)
Terminal Cakra (Mataram)-Aikmel (Elf): Rp 15.000
Aikmel – Sembalun : Rp 20.000
Tiket masuk taman nasional: Rp 10.000
Ojek Senaru – Bayan : Rp 20.000 (maksimal pukul 14.00)
Engkel Bayan – Terminal Mandalika : Rp 30.000
TOTAL: Rp. 845.000 (PP)

Untuk informasi pendakian :
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Jl. Arya Banjar Getas (Lingkar Selatan)
Kota Mataram

Telp. (0370) 627764


Posted by Muslih 
https://www.facebook.com/muslih.anwar